Segala puji milik Allah, Tuhan semesta malam. Berkat rahmat dan hidayah-Nya kita masih diberi kesempatan menghirup udara dingin Kairo. Shalawat beriring juga salam senantias tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad. Semoga semangat jihadnya menular kepada kita semua untuk terus menghadapi zaman yang semakin berat. Amin.
Ujian baru saja rampung dengan sendirinya. Seolah tanpa dipaksa akhirnya ujian selesai juga. Setelah sekitar setengah bulan, kita disibukkan oleh diktat-diktat yang runyam kini tiba saatnya kita kembali pada dunia aktifitas yang telah menjadi habitat. Untuk memulai adaptasi yang masih anyar ini, Buletin Prestasi mencoba memulai dengan edisi pertamanya. Setelah beberapa waktu lalu vacum oleh beberapa hal dan sebab.
Mengupas soal budaya seperti tidak ada habisnya. Sebab ‘barang’ yang satu ini punya banyak vitur, warna, jenis, bentuk, yang tidak mudah dibahas dalam waktu singkat. Budaya memang menghiasi seluruh lini kehidupan. Maka dari itu cukup lelah untuk menjamah semuanya. Namun dalam edisi ini, Prestasi mencoba membincang soal budaya baru yang konon bakal merusak budaya lama. Malah itu bisa disebut bukan budaya, karena tidak berbudi. Satu contoh budaya alay yang marak akhir-akhir ini, dan masih banyak lagi seputar ‘budaya’ baru yang akan dibahas.
Sepertinya tidak perlu berpanjang lebar. Untuk memulai hari yang cerah ini (Waw, seperti lagunya Noah ajah, hehehe). Seperti juga kepada pembaca budiman semoga hidangan ini cukup menghangatkan angin musim. Sajian-sajian ini diharap dapat menambah wawasan kita sebagai mahasiswa yang punya akal dan budi. Dan memancing pembaca untuk menggalinya lebih dalam. Akhir kalam, atasnama segenap kru Prestasi kami mohon maaf jika nantinya ditemukan kesalahan. Kami hanya manusia biasa. Sekian, terimakasih.
.jpg)







.jpg)

.jpg)
Post a Comment