Selamat Datang di Portal Pendidikan

Gebukkan Mimpiku

Mimpi. Semua bayang-bayang yang ia ingat tentang mimpi begitu sangat menakutkan. Berlari, terjatuh, bangkit, dan jatuh lagi. Betapa sulitnya mencari keberadaan hakiki yang terang benderang, seterang sinar matahari yang tak lelah menyinarinya.
Hamid tak henti-hentinya membaca hamdalah. Kadang ia berdiri sejenak, mengucapkan takbir sambil mengangkat kedua tangannya setinggi bahu dan kemudian mendekapkan ke dadanya. Setelah itu, ia langsung sujud, sujud syukur karena ia telah diberi nikmat oleh Allah. Besok pagi ia akan melangsungkan pernikahan dengan seorang gadis cantik, temannya sejak kecil, Ima.
Pagi itu, Hamid masih gemetar. Jantungnya berdetak kencang. Keringatnya berjatuhan. Walaupun dengan muka yang tegang, ia masih terlihat tampan dengan memakai jas hitam dan baju putih di dalamnya. Ia memakai celana hitam dan songkok hitam berhiaskan butiran-butiran kecil kemerlap di sekelilingnya, bagai mutiara yang selalu berkilau menyejukkan hati orang yang memandangnya.

***

“Kamu sudah siap mas?” Tanya Ima sambil berjalan kearah Hamid.
Subhanallah, kamu cantik sekali. Alangkah bahagia sekali jika aku selalu bersamamu. Insya Allah aku siap, do’akan mas ya… “ senyum khas Hamid merekah dari wajahnya.
“Terima kasih mas, kita akan selalu bersama. Aku juga akan selalu bahagia bersama, mas”
Ima yang saat itu memakai gaun berwarna putih dan kerudung berwarna putih laksana sosok bidadari yang diidam-idamkan oleh seluruh kaum adam. Semua orang yang melihatnya pasti akan terpesona dengan kecantikannya.
Terlihat di luar rumah, mobil yang menjemput penghulu telah datang. Jantung Hamid semakin berdetak kencang. Dan acara pun akan segera dimulai.
“Bagaimana mas Hamid? Sudah siap?” Tanya penghulu kepada Hamid.
“Siap pak…”
Mereka pun berjabat tangan dengan kencang. Tangan Hamid semakin gemetar. Ia hadapkan mukanya ke bawah sambil ia pejamkan matanya sedalam-dalamnya.
“Saya nikahkan putrid saya Ima Khoirunnisa binti Muhammad Marzuki dengan Muhammad Hamid bin Ahmad Hasan, dengan mas kawin uang tunai sebesar 1 juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya…”
Belum selesai Hamid bicara, gemuruh sorak tawa memenuhi telinganya. Dengan segera ia membuka matanya dan melihat sekelilingnya. Hamid tercengang melihat orang yang di salaminya yang ternyata adalah guru SMA-nya.
“Maaf pak…” kata Hamid sekenanya. Hamid masih tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat dan menyimpan beberapa pertanyaan yang tak terjawab.
“Sedang ngalamun apa kau nak? Cepat duduk sana!”

***

Hamid bingung. Ia masih sibuk mengamati orang-orang di sekelilingnya. Ia melihat tubuhnya, meraba mukanya, dan sesekali menampar wajahnya sendiri. Ia merasakan sakit. Dan setelah yakin bahwa yang ia lihat adalah nyata, ia menengok ke sosok manusia di sampingnya. Ia tercengang kembali.
“Bukankah dia adalah Rouf? Temanku yang sudah tamat kuliyah bersamaku dan masih kerja di Madinah? Kenapa sekarang ia ada di sini? Tapi kok mukanya terlihat sedikit lebih muda dari waktu aku terakhir ketemu dengannya?” Hamid bertanya-tanya di hatinya.
“Bukankah itu wanita pujaanku? Ima, yang sedang melangsungkan pernikahan denganku? Tapi wajahnya juga masih muda dibanding saat aku akan menikah dengannya?” pertanyaan bertubi-tubi muncul di otaknya. Dan tak satu pun yang terjawab.
Ayah, calon mertua, penghulu, Ima dengan gaun putih yang mempesona, diman semua itu? Apakah hanya mimpi? Tapi itu semua terlihat sangat nyata. Dan bahkan rasa cinta dan gemetar itu pun masih sangat terasa. Ada apa dengan semua ini?
“Mid, kamu kenapa? Hari ini kamu terlihat aneh?” Tanya Rouf tiba-tiba mengagetkannya.
“Nggak, nggak kenapa-kenapa kok. Biasa aja”
“Beneran?”
“Iya… iya nggak apa-apa kok, nyantai aja”
“Oke lah kalau begitu. Eh, kita beli buku yuk, buat ngerjain tugas tadi!” ajak Rouf penuh antusias.
“Emm… Oke, yuk…”
Dengan pikiran yang masih bingung dan sederetan pertanyaan-pertanyaan yang mengaung di kepalanya, Hamid tidak tahu buku apa yang akan di belinya. Hanya untuk membuat suasana santai dengan temannya, Hamid mengambil satu buku sekenanya dan membelinya. Sesegera mungkin ia taruh buku itu di tasnya. Mereka berdua pun pulang bersama-sama tanpa perbincangan yang berarti.

***

Sesampainya di rumah, Hamid langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Kepalanya terasa pusing. Pusing sekali. Ia melihat langit-langit kamarnya. Lama sekali ia melihat, hingga kepalanya semakin pusing. Pandangannya memudar dan tiba-tiba gelap.
“Mid, Hamid, kamu tidak apa-apa?” sosok wanita cantik menampar-nampar pipinya dengan lembut, berusaha menyadarkannya.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya sosok wanita itu lagi.
“Aku ada dimana?” Tanya Hamid penuh keheranan.
“Kamu ada di taman. Aku tadi melihat kamu lari-lari, terus kamu terjatuh lalu pingsan”
“Kamu Ima kan?”
“Iiih nggak lucu ah bercandanya, masak pingsan aja lupa sama aku, wanita tercantik di dunia, Ima Khoirunnisa’?”
Tawa pun tak terbendung. Dan mereka pun terdiam hingga Hamid mencoba bertanya kepada sahabat kecilnya itu. Ia masih bingung dengan keadaan yang sedang ia alami.
“Ima, ini nyata kan?”
“Maksud kamu?”
“Ya aku tanya, ini nyata atau bukan?”
“Kok aneh pertanyaannya? Ya jelas nyata lah, apa kamu sudah gila gara-gara pingsan tadi? Apa perlu aku bawa ke rumah sakit?” Celetus Ima penuh canda.
“Eh, ditanya beneran kok. Soalnya aku merasa aneh saja. Kamu terlihat sangat muda dari yang aku lihat. Umurmu berapa?”
“Aneh gimana maksudnya? Umur kita kan sama, kita sekarang berumur 15 tahun, dan kita masih SMP, wajar kan kalau masih muda?”
“Apa? Beneran? Aku melihat usia kita sudah 25 tahun, dan kita sudah SMA, kita sudah Kuliyah, dan kita mau menikah”
“Menikah? Mana mau aku menikah dengan kamu? Sudah gila kamu ya? Apa memang perlu kita ke rumah sakit aja?”
Mendadak suasana menjadi hening. Ima masih tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh  Hamid. Hamid masih bingung antara mimpi dan kenyataan. Antara kegelapan dan keterangan. Matanya tertuju pada tas yang tergeletak di samping Ima. Seperti ada yang aneh. Segera ia mengambilnya dan membuka isi tasnya. Ia terlihat mencari sesuatu. Dan setelah ia menemukan apa yang ia cari, segera ia menyobek bungkus plastik benda itu yang ternyata adalah buku. Ia melihat isi dibalik sampul buku itu. Ia terkejut. Ia terlihat stress melihat buku itu. Lalu diserahkannya pada Ima.
“Buku apaan ini Mid? Salah cetak ya? Sekarang kan tahun 2013? Kenapa di buku ini tertulis cetakan tahun 2016?”
“Itu adalah buku yang aku beli bersama Ro’uf untuk mengerjakan tugas sekolah SMA-ku. Dan itu adalah kenyataan, bukti aku telah ada di tahun 2016. Aku sudah SMA. Kamu harus percaya itu Ma, kamu harus percaya. Aku tidak bohong, aku tidak gila.”

***

Hamid dan Ima akhirnya pulang bersama dengan membawa ketidak percayaan masing-masing. Mereka hanya saling diam. Tiba-tiba dari arah belakang, mobil BMW hitam menyeruduk mereka. Brak! Mobil itu menabrak mereka, gelap pun menyapa mereka dengan kejamnya. Akhirnya mereka pun dibawa ke rumah sakit oleh si penabrak itu.

***

Seorang mahasiswi kesehatan telah ditugaskan oleh dosennya untuk melakukan praktek di rumah sakit tempat Hamid di rawat. Di hari pertamanya itu, ia telah di hadapkan dengan pasien pertama bernama Hamid yang lukanya sangat parah. Hamid kehabisan banyak darah. Tidak mau di hari pertama prakteknya mengalami kegagalan, ia pun menyumbangkan darahnya sendiri demi pasien pertamanya, karena kebetulan golongan darahnya sama dengan golongan darah Hamid.
Berbulan-bulan Hamid koma tak sadarkan diri. Namun mahasiswi itu, walaupun masa praktiknya sudah habis, ia masih tetap mendampingi pasien pertamanya yang tak kunjung sadar. Hingga suatu hari, genap sudah koma Hamid selama 6 bulan.
“Ima… Ima… dimana kamu?” suara hamid terdengar sayup-sayup.
“Iya aku disini…” jawab Ima. Ima sangat heran.
“Kenapa dia bisa tahu namaku? Dari mana dia tahu? Padahal waktu pertama kali aku merawat Hamid sebagai pasien pertamaku, Hamid sudah tak sadarkan diri, bahkan kehilangan banyak darah dan mengalami koma. Apakah dalam komanya Hamid bisa mendengar orang-orang di sekelilingnya yang memanggil namaku?” Ima bertanya-tanya dalam hatinya. Namun ia urungkan niatnya untuk bertanya langsung kepada Hamid, karena ia baru tersadarkan diri.

***

Pagi hari di taman rumah sakit, Hamid duduk di kursi rodanya dengan ditemani Ima yang duduk di kursi sebelahnya. Ima mengawali perbincangan di pagi yang cerah itu.
“Mid, aku ikut berduka cita atas meninggalnya kedua orang tuamu karena kecelakaan itu.” Terlihat raut muka Ima yang sedih.
“Aku? Kedua orang tuaku? Kecelakaan? Meninggal?” Hamid terkejut dan langsung menghujani pertanyaan kepada Ima.
“Iya, waktu aku pertama kesini untuk praktik, kamu dan keluargamu mengalami kecelakaan hebat. Mobil kalian menabrak truk dari arah yang berlawanan ketika kalian dalam perjalanan pulang dari acara wisuda kuliyahmu. Kondisi kalian saat itu sangat parah. Aku minta maaf ya karena tidak bisa menolong kedua orang tuamu, lukanya terlalu parah. Oh ya, kamu tahu namaku dari mana?”
Akhirnya Ima memberanikan diri menanyakan pertanyaan yang lama disimpannya itu.
“Apa ini nyata?” tanya Hamid mengalihkan pembicaraan.
Ima memandang Hamid dengan penuh arti. Ia menggerakkan tangannya, memberanikan diri untuk menyentuh tangan Hamid.
“Iya Hamid, ini nyata, aku bisa menyentuh tanganmu, dan kamu juga merasakan sentuhan tanganku” kata Ima meyakinkan.
“Aku telah mengalami banyak mimpi, tentang kamu Ima, tapi bukan Ima sebagai perawat”
“O ya? Terus sebagai apa? Selama kamu koma, kamu mimpi apa saja?”
“Dalam mimpiku, Ima adalah sosok sahabatku dari kecil, teman SMP, SMA, kulyah, dan bahkan aku sempat akan menikah dengan Ima”
“Apakah dalam mimpimu kamu mencintai Ima?”
Suasana hening. Ima menunggu jawaban. Hamid bingung, kalau dia pun mau menjawab dengan sejujurnya, dia sangat cinta dengan Ima dalam mimpinya. Bahkan rasa itu juga ia rasakan dengan Ima yang berada di sampingnya sekarang. Tak kurang, bahkan lebih. Cinta itu lebih dalam ia rasakan.
“Apa ini benar-benar nyata?”

***

Gelap menyapa lagi, hitam memanggil-manggil, mendadak putih berlari jauh, terang tak menengok sedikitpun. Hamid menjerit. Ia berteriak sekeras-kerasnya.
“Siapapun yang mendengar suaraku, tolong gebukkan mimpiku! Atau bunuh sekalian mimpiku ini, aku ingin hidup nyata… toloong!”


Hamid sangat lelah dengan keadaan yang ia alami, kesal dengan mimpi-mimpi tak berujung yang menghampiri dirinya. Ia hanya berusaha menenangkan dirinya. Sejenak ia berfikir. Berusaha untuk menikmati apa yang sedang menimpanya. Bukankah hidup adalah sebuah pilihan? Antara hidup apa adanya dengan mensyukuri segala nikmat-Nya dan mengabaikan hidup dengan bertopeng ingkar segala nikmat-Nya? Hamid hanya berusaha menjalani hidupnya dengan sabar dan bersyukur, berusaha menanam kebahagiaan dalam dirinya. Namun hanya satu hal yang membuatnya takut. Ia takut tak ada Ima dalam mimpi-mimpi selanjutnya. [by: al-Muzakky; Majalah Prestasi Edisi 93] 
Share this post :

Post a Comment

PAPAN PENGUMUMAN

Statistik Blog

 
Support : dzulAceh | DownloadRPP | BerintaNanggroe
Copyright © 2015. Kang Benzem - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Modified by dzulAceh
Proudly powered by Blogger