Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Selaksa syukur dihembus satu-satu lewat angin kering penghujung musim dingin;
PRESTãSI Edisi ke-96 telah lahir lagi, kali ini dari rahim metafora yang
berpesta semalaman dalam dialog analogis.
Ajang perebutan kursi legislatif tahun ini yang disebut-sebut sebagai
pesta demokrasi untuk seluruh rakyat Indonesia diibaratkan dalam banyak hal,
mencari jarum dalam tumpukan jerami, air di daun talas, bahkan cinta yang tak
terbalas. Setiap kita mungkin butuh ruang tersendiri untuk meluapkan keegoisan
masa muda, sesekali, keengganan terhadap birokrasi dan semua sistemnya. Kru
redaksi PRESTãSI menganggap itu sebuah kewajaran, dan di kesempatan kali ini
memberi ruang seluas-luasnya untuk mengadu, mendiskusi dalam kata-kata atau
juga merenungkan berbagai sisi ke-pemilu-an, mulai dari partisipan,
penyelengara hingga pelaku politik sendiri.
Terlalu luasnya sebuah organisasi raksasa bernama
negara inilah yang memungkinkan ketidak-sepahaman dan ketidak-saling-pengertian
sering kali terjadi, antar individu atau kelompok. Menyatukannya adalah tugas
para penyelenggara negara, maka kredibilitas atau paling tidak sekedar
pencitraan menjadi standar. Sejauh mana peran seseorang mampu memimpin sebuah
negara yang di dalamnya banyak antar perorangan masih sulit untuk saling
mengerti, kami ingin memberi gagasan mengenai hal tersebut. Berdasarkan apa
yang kami amati dari kacamata kepolosan dan keluguan masa muda kami. Tapi kami
tidak selalu benar-benar polos dan lugu. Kami dedikasikan tema “Nasi kotak;
Menu Politik” ini teruntuk masisir, dan semua jiwa muda di seluruh tanah air
Indonesia. Merdeka!
Kemudian, selamat membaca di SINI







.jpg)

.jpg)
Post a Comment